Fenomena Quiet Quitting Saat Mengerjakan Skripsi pada Mahasiswa

Fenomena quiet quitting bukan hanya terjadi di dunia kerja, tetapi juga mulai terlihat pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tidak benar-benar berhenti, namun menurunkan usaha, motivasi, dan keterlibatannya. Dalam konteks skripsi, quiet quitting terjadi ketika mahasiswa tetap melanjutkan proses bimbingan dan penelitian, tetapi tanpa semangat, tanpa target, serta hanya berusaha sekadar “cukup lulus”. Kondisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi tekanan mental, kelelahan akademik, serta perasaan tidak lagi terhubung dengan proses belajar.

Fenomena ini semakin sering terjadi di kalangan mahasiswa karena skripsi dianggap sebagai beban besar yang menguras energi fisik dan emosional. Banyak mahasiswa yang pada awalnya penuh semangat dalam memilih topik dan menyusun proposal, tetapi motivasi tersebut berangsur menurun saat menghadapi revisi berulang, bimbingan yang lambat, atau kesulitan mendapatkan data. Ketika stres menumpuk, mahasiswa memilih sikap menjalani skripsi apa adanya daripada benar-benar berjuang menyelesaikannya dengan maksimal.

Quiet quitting pada skripsi bukan berarti mahasiswa tidak mampu. Justru banyak dari mereka berada dalam kondisi kelelahan mental. Mereka tetap hadir dalam bimbingan dan tetap menulis, tetapi tanpa antusiasme. Sikap ini tampak seperti bentuk perlindungan diri dari tekanan akademik yang berlebihan. Namun, jika berlangsung terlalu lama, hal ini dapat memperpanjang waktu studi dan memengaruhi rasa percaya diri.

Memahami quiet quitting dalam konteks skripsi membantu mahasiswa dan lingkungan akademik mengenali gejala lebih awal sebelum berdampak lebih jauh. Dengan begitu, strategi pendampingan yang lebih manusiawi dan sehat dapat diterapkan. Artikel ini akan membahas penyebab, indikator, dampak, dan strategi menangani quiet quitting agar proses penyusunan skripsi dapat berjalan lebih sehat dan terarah.

Baca Juga: Skripsi Regulasi Emosi pada Mahasiswa Remaja

Penyebab Quiet Quitting Saat Menyusun Skripsi

Salah satu penyebab terbesar quiet quitting dalam pengerjaan skripsi adalah kelelahan mental atau academic burnout. Proses panjang skripsi menuntut konsistensi yang tidak mudah dijaga. Ketika mahasiswa merasa perjuangannya tidak menunjukkan hasil, motivasi mereka menurun. Revisi yang terasa tidak ada habisnya membuat mahasiswa kehilangan arah dan merasa pekerjaannya tidak dihargai.

Hubungan dengan dosen pembimbing juga dapat mempengaruhi kondisi mental. Ada pembimbing yang sangat mendukung, tetapi ada pula yang sulit dihubungi, terlalu kritis tanpa memberikan arahan yang jelas, atau memberikan revisi yang membingungkan. Ketika komunikasi tidak berjalan baik, mahasiswa menjadi frustasi dan mulai menarik diri.

Selain itu, tekanan sosial sangat berpengaruh. Melihat teman sebaya yang sudah jauh progresnya, lulus lebih dulu, atau terlihat lebih percaya diri dalam mengerjakan skripsi, dapat memunculkan perasaan tidak mampu. Alih-alih berjuang, sebagian mahasiswa memilih pasrah dan menjalani proses apa adanya.

Faktor ekonomi juga dapat menjadi penyebab quiet quitting. Mahasiswa yang harus bekerja sambil menyelesaikan skripsi sering kali kehabisan energi untuk fokus akademik. Ketika prioritas terbagi, skripsi menjadi hal yang hanya dikerjakan sekadar untuk menghindari teguran, bukan untuk mencapai hasil terbaik.

Kurangnya dukungan emosional dari lingkungan juga dapat memperburuk kondisi. Mahasiswa yang merasa tidak didengar atau tidak memiliki seseorang untuk berbagi keluh kesah cenderung memendam masalah sendirian. Hal ini meningkatkan risiko quiet quitting sebagai bentuk penghindaran terhadap tekanan yang dirasakan.

Tanda Quiet Quitting dalam Proses Skripsi

Berikut indikator quiet quitting yang umum terlihat pada mahasiswa:

  • Menghindari bimbingan atau sering menunda jadwal bertemu pembimbing

  • Menulis skripsi hanya ketika terpaksa atau mendekati tenggat

  • Merasa “yang penting lulus” tanpa mempertimbangkan kualitas hasil

  • Berkurangnya minat membaca referensi atau mencari data tambahan

  • Tidak lagi merasa bangga dengan proses atau konsep yang sedang dikerjakan

  • Lebih memilih mengalihkan perhatian pada hiburan dibanding mengerjakan skripsi

  • Sulit memulai aktivitas meskipun sadar tugas harus diselesaikan

Indikator ini bukan tanda malas, tetapi tanda kelelahan mental yang perlu dipahami.

Dampak Quiet Quitting pada Perjalanan Akademik

  • Menunda kelulusan dan memperpanjang masa studi

  • Menurunkan kepercayaan diri sebagai akademisi

  • Meningkatkan risiko burnout berkepanjangan

  • Memunculkan perasaan bersalah dan kecemasan jangka panjang

  • Mengurangi peluang mendapatkan hasil penelitian yang bermanfaat

  • Membuat hubungan dengan pembimbing menjadi semakin renggang

Jika tidak diatasi, quiet quitting dapat meninggalkan luka mental yang memengaruhi kehidupan setelah kuliah.

Jasa konsultasi skripsi

Cara Mengatasi Quiet Quitting Saat Menulis Skripsi

Beberapa strategi berikut dapat membantu mahasiswa mengembalikan fokus dan motivasi:

  • Buat rutinitas harian kecil, misalnya menulis 10–15 menit per hari

  • Cari circle atau partner skripsi agar tidak merasa mengerjakan sendirian

  • Diskusikan kesulitan secara jujur dengan pembimbing, bukan dipendam

  • Belajar menerima progress kecil, karena skripsi memang diselesaikan sedikit demi sedikit

  • Gunakan metode manajemen waktu seperti Pomodoro untuk meningkatkan fokus

  • Lakukan kegiatan relaksasi, seperti jalan santai, journaling, atau meditasi ringkas

  • Kurangi membandingkan diri dengan progress orang lain

  • Rayakan pencapaian sekecil apapun, misalnya selesai 1 halaman atau revisi kecil

Kunci utama adalah menyadari bahwa skripsi bukan ajang pembuktian, tetapi proses belajar.

Pentingnya Dukungan Emosional dan Lingkungan Sehat

Dukungan dari teman, keluarga, pasangan, atau komunitas akademik sangat penting bagi mahasiswa yang sedang berjibaku dengan skripsi. Kehadiran seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi dapat membantu melepaskan tekanan internal. Bahkan sekadar ditemani saat mengerjakan di perpustakaan atau kafe dapat membuat proses terasa lebih ringan.

Dosen pembimbing juga memiliki peran penting dalam mencegah quiet quitting. Pembimbing yang komunikatif, memberikan arahan jelas, dan memberikan penghargaan terhadap usaha mahasiswa dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi. Kampus sebaiknya juga menyediakan layanan konseling psikologis yang mudah diakses agar mahasiswa dapat memperoleh bantuan profesional ketika diperlukan.

Lingkungan belajar yang sehat berperan besar dalam membentuk pola pikir bahwa skripsi adalah perjalanan yang dapat diselesaikan, bukan beban yang menakutkan.

Baca Juga: Skripsi RnD Model ADDIE dalam Pengembangan Pembelajaran

Kesimpulan

Quiet quitting dalam pengerjaan skripsi terjadi ketika mahasiswa tetap melanjutkan proses akademik, tetapi tanpa motivasi dan keterlibatan penuh. Fenomena ini muncul sebagai akibat dari kelelahan mental, tekanan sosial, hubungan pembimbing yang kurang efektif, serta kurangnya dukungan emosional. Dampaknya dapat memperpanjang masa studi dan mengurangi kepercayaan diri mahasiswa.

Namun, quiet quitting bukan akhir dari segalanya. Dengan memahami penyebab dan tanda awalnya, mahasiswa dapat mulai mengelola stres, membangun dukungan sosial, dan menyusun strategi kerja yang lebih manusiawi. Skripsi tidak harus sempurna; yang penting adalah proses berjalan, langkah demi langkah, sampai selesai.

Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Skripsi Malang. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Skripsi Malang sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.

This will close in 20 seconds