Setiap proses penelitian selalu melibatkan elemen-elemen penyusun yang membuat penelitian tersebut terbentuk secara utuh. Elemen ini disebut dimensi. Dalam praktiknya, dimensi berfungsi sebagai ruang acuan yang membantu peneliti memahami struktur, arah, dan batasan dari penelitian. Dengan mengenal dimensi, peneliti bisa memetakan apa yang ingin mereka teliti, bagaimana prosesnya berlangsung, dan hasil apa yang ingin dicapai.
Dimensi juga menjadi alat untuk menempatkan penelitian pada “posisi” yang tepat. Entah penelitian itu bersifat sosial, eksperimental, lapangan, hingga kajian dokumentasi, semuanya memiliki dimensi yang menyertainya. Karena itu, memahami berbagai dimensi penelitian menjadi keharusan agar penelitian bisa berjalan terarah, objektif, serta mudah dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Struktur Konseptual Dimensi dalam Penelitian Kuantitatif
Dimensi Epistemologis dalam Penelitian
Dimensi epistemologis berbicara tentang bagaimana pengetahuan diperoleh dalam sebuah penelitian. Fokusnya ada pada cara peneliti memandang kebenaran dan metode yang digunakan untuk menemukannya. Banyak penelitian modern bergantung pada pendekatan valid dan sistematis agar data yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan.
Pada dimensi ini, peneliti menentukan posisi: apakah akan menggunakan ilmiah empiris, kualitatif interpretatif, atau pendekatan campuran. Semakin jelas posisi epistemologisnya, semakin kuat fondasi penelitiannya. Dimensi epistemologis juga memengaruhi bagaimana peneliti melihat data, mengelola informasi, dan menyusun interpretasi akhir.
Dimensi Ontologis dan Ruang Objektivitas Penelitian
Ontologi dalam penelitian membahas tentang “apa yang diteliti” secara esensial. Dengan kata lain, ontologi berbicara tentang objek yang menjadi pusat penelitian dan sifat keberadaannya. Dimensi ini membantu peneliti mengidentifikasi batasan objek dan memahami struktur realitas yang sedang ditelaah.
Dalam praktiknya, dimensi ontologis sering kali berperan penting ketika peneliti harus menelaah fenomena abstrak, perilaku manusia, atau gejala sosial yang kompleks. Peneliti membutuhkan batasan ontologis agar tidak meluas terlalu jauh dari tujuan awal penelitian. Tanpa batasan ontologis, penelitian berpotensi kehilangan fokus dan interpretasi menjadi bias.
Dimensi Metodologis sebagai Arah Pelaksanaan Penelitian
Dimensi metodologis membahas bagaimana penelitian dilakukan. Melalui dimensi ini, peneliti menentukan metode yang digunakan, teknik pengumpulan data, hingga analisis yang dipakai. Tanpa metodologi yang jelas, penelitian hanya menjadi sekumpulan data tanpa arah.
Di dalam dimensi metodologis, peneliti dapat memilih jalur seperti metode survei, eksperimen, wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan lainnya. Pemilihan metode harus disesuaikan dengan tujuan penelitian serta karakteristik objek yang diteliti.
Salah satu contoh poin yang sering dijadikan acuan dalam dimensi metodologis ialah:
-
Metode yang dipilih harus mampu menghasilkan data yang relevan dengan fenomena yang diteliti.
-
Teknik analisis harus sesuai dengan sifat dan karakter data.
Dimensi Aksiologis dalam Makna dan Tujuan Penelitian
Aksiologi membahas nilai-nilai dalam penelitian. Dimensi ini menjelaskan alasan mengapa penelitian dilakukan serta manfaat apa yang ingin diberikan kepada masyarakat, ilmu pengetahuan, atau praktik profesional.
Dimensi aksiologis memberi arah moral dan etis dalam penelitian. Peneliti tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan manfaat yang dihasilkan. Oleh karena itu, keputusan metodologis sering dipengaruhi oleh pertimbangan aksiologis.
Dimensi ini sangat penting terutama dalam penelitian yang melibatkan manusia, lingkungan hidup, atau isu sosial sensitif. Peneliti harus memastikan bahwa penelitian tidak merugikan pihak mana pun dan tetap berpegang pada prinsip etika.
Dimensi Operasional dalam Pelaksanaan Nyata Penelitian
Dimensi operasional membahas penerapan seluruh konsep ke dalam tindakan nyata. Pada tahap ini, peneliti mengubah konsep abstrak menjadi indikator operasional yang bisa diukur. Tanpa dimensi operasional, penelitian tidak bisa dieksekusi secara sistematis.
Dalam praktiknya, dimensi operasional mencakup perumusan variabel, definisi operasional, instrumen penelitian, jadwal kegiatan, hingga cara pengolahan data.
Dimensi operasional juga sering memunculkan poin-poin penting seperti:
-
Definisi operasional harus jelas dan mudah dipahami.
-
Instrumen pengukuran harus valid dan reliabel agar hasil penelitian bisa dipercaya.
Baca Juga: Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Aspek Temporal
Kesimpulan
Setiap dimensi dalam penelitian memiliki peran masing-masing untuk membentuk penelitian yang lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari epistemologi yang memberikan fondasi cara berpikir, ontologi yang menentukan objek kajian, metodologi yang mengatur proses, aksiologi yang memberi makna, hingga operasional yang memastikan penelitian berjalan secara konkret.
Memahami seluruh dimensi ini membantu peneliti merancang penelitian yang lebih matang, terstruktur, dan kuat. Dengan begitu, hasil penelitian tidak hanya akurat, tetapi juga relevan dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun kehidupan sosial.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Skripsi Malang. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Skripsi Malang sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.


