Pendekatan nonilmiah dipahami sebagai cara memperoleh pengetahuan yang tidak melalui prosedur ilmiah yang sistematis dan teruji. Pengetahuan dibentuk berdasarkan pengalaman personal, intuisi, atau kepercayaan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini sering digunakan secara alami dalam masyarakat tanpa melalui proses pengujian empiris
Dalam kehidupan sosial, pendekatan nonilmiah digunakan untuk memahami realitas secara praktis dan cepat. Penilaian terhadap suatu peristiwa sering dilakukan berdasarkan kesan awal atau pengalaman sebelumnya. Meskipun bersifat subjektif, pendekatan ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan praktis individu
Selain itu, pendekatan nonilmiah berkembang seiring dengan tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tidak selalu dipertanyakan secara kritis, melainkan diterima sebagai kebenaran yang sudah mapan. Hal ini menyebabkan pengetahuan bersifat relatif dan kontekstual
Pendekatan nonilmiah juga dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap metode ilmiah. Dalam kondisi tertentu, individu mengandalkan penalaran sederhana dan pengalaman pribadi untuk mengambil keputusan. Proses ini dilakukan tanpa verifikasi sistematis
Dengan demikian, pendekatan nonilmiah menjadi bagian dari cara manusia memahami dunia meskipun tidak selalu memenuhi standar keilmuan
Baca juga: Pendekatan Ilmiah sebagai Kerangka Rasional dalam Penelitian
Asumsi Subjektif dalam Pendekatan Nonilmiah
Asumsi subjektif merupakan unsur utama dalam pendekatan nonilmiah. Penilaian terhadap suatu fenomena dibentuk berdasarkan pandangan pribadi, perasaan, dan pengalaman individu. Proses ini tidak didasarkan pada pengukuran objektif atau pengujian yang terkontrol
Dalam praktiknya, asumsi subjektif sering digunakan untuk menarik kesimpulan secara cepat. Informasi yang diterima ditafsirkan sesuai dengan kerangka berpikir individu tanpa melalui proses verifikasi. Akibatnya, kebenaran yang dihasilkan bersifat personal dan tidak selalu dapat diterapkan secara umum
Asumsi subjektif juga dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan budaya individu. Nilai-nilai yang dianut membentuk cara pandang terhadap realitas. Oleh karena itu, pengetahuan yang dihasilkan dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya
Selain itu, asumsi subjektif dapat memperkuat bias dalam pengambilan keputusan. Tanpa kontrol metodologis, penilaian yang dilakukan cenderung mengabaikan fakta yang bertentangan dengan keyakinan awal
Dengan demikian, asumsi subjektif menjadi ciri khas pendekatan nonilmiah yang membedakannya dari pendekatan ilmiah
Kebiasaan Sosial sebagai Sumber Pengetahuan
Kebiasaan sosial berperan penting dalam pembentukan pengetahuan melalui pendekatan nonilmiah. Pengetahuan diperoleh dari praktik yang dilakukan secara berulang dalam kehidupan masyarakat. Apa yang dianggap benar sering kali didasarkan pada kebiasaan yang telah lama dijalankan
Dalam konteks sosial, kebiasaan dijadikan rujukan untuk menentukan sikap dan tindakan. Praktik yang dilakukan oleh kelompok dianggap sebagai kebenaran kolektif tanpa perlu pembuktian empiris. Proses ini memperkuat legitimasi sosial terhadap suatu pengetahuan
Kebiasaan sosial juga berfungsi sebagai mekanisme adaptasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pengetahuan yang diwariskan membantu individu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Namun, kebenaran yang dihasilkan bersifat situasional dan kontekstual
Kebiasaan sosial dalam pendekatan nonilmiah dapat dijelaskan melalui beberapa aspek berikut
- Pewarisan nilai secara turun-temurun
- Penerimaan pengetahuan berdasarkan praktik umum
- Minimnya proses pengujian rasional
- Penguatan norma melalui interaksi sosial
- Ketergantungan pada otoritas kelompok
Dengan demikian, kebiasaan sosial menjadi sumber pengetahuan yang kuat meskipun tidak melalui proses ilmiah
Keyakinan Pribadi dalam Penafsiran Realitas
Keyakinan pribadi menjadi faktor dominan dalam pendekatan nonilmiah karena membentuk cara individu memahami dan menafsirkan realitas. Hal ini dapat berasal dari pengalaman hidup, nilai spiritual, atau ajaran tertentu yang diyakini kebenarannya
Dalam proses penalaran, keyakinan pribadi sering dijadikan dasar dalam menentukan benar atau salah. Informasi yang sesuai dengan keyakinan akan diterima, sedangkan informasi yang bertentangan cenderung diabaikan. Proses ini berlangsung tanpa evaluasi kritis
Keyakinan pribadi juga memberikan rasa kepastian dan stabilitas psikologis bagi individu. Pengetahuan yang diyakini memberikan pegangan dalam menghadapi ketidakpastian. Namun, hal ini dapat membatasi keterbukaan terhadap perspektif baru
Dalam pendekatan nonilmiah, keyakinan pribadi memengaruhi proses penafsiran melalui beberapa aspek berikut
- Penentuan makna berdasarkan kepercayaan individu
- Seleksi informasi yang sesuai dengan keyakinan
- Penolakan terhadap bukti yang bertentangan
- Penguatan keyakinan melalui pengalaman personal
- Pembentukan sikap yang konsisten dengan nilai pribadi
Dengan demikian, keyakinan pribadi menjadi elemen penting yang membentuk pengetahuan nonilmiah
Integrasi Unsur Pendekatan Nonilmiah
Integrasi unsur dalam pendekatan nonilmiah menunjukkan bahwa asumsi subjektif, kebiasaan sosial, dan keyakinan pribadi saling berkaitan dalam membentuk cara berpikir individu. Setiap unsur memperkuat unsur lainnya dalam proses pemahaman realitas
Melalui integrasi tersebut, pengetahuan nonilmiah dapat bertahan dan berkembang dalam masyarakat. Meskipun tidak bersifat objektif, pengetahuan ini memiliki fungsi sosial dan praktis dalam kehidupan sehari-hari
Integrasi unsur pendekatan nonilmiah juga menjelaskan mengapa pengetahuan tertentu sulit digantikan oleh pengetahuan ilmiah. Faktor emosional, sosial, dan nilai personal berperan besar dalam mempertahankan keyakinan
Dengan demikian, integrasi unsur pendekatan nonilmiah menjadi ciri khas dalam pembentukan pengetahuan berbasis pengalaman dan kepercayaan.
Baca juga: Konsep Dasar Penelitian Kuantitatif sebagai Landasan Generalisasi Temuan
Kesimpulan
Pendekatan nonilmiah merupakan cara memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada asumsi subjektif, kebiasaan sosial, dan keyakinan pribadi. Pendekatan ini berkembang secara alami dalam kehidupan manusia dan berfungsi memenuhi kebutuhan praktis sehari-hari
Asumsi subjektif membentuk penilaian personal, kebiasaan sosial memperkuat kebenaran kolektif, dan keyakinan pribadi memberikan kepastian dalam menafsirkan realitas. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan membentuk pola pengetahuan nonilmiah
Dengan memahami karakteristik pendekatan nonilmiah, perbedaan antara pengetahuan berbasis pengalaman dan pengetahuan ilmiah dapat dipahami secara lebih kritis dan proporsional


