Publikasi artikel pada jurnal yang terindeks Scopus merupakan salah satu target yang banyak dikejar oleh mahasiswa, dosen, peneliti, dan akademisi. Proses menuju publikasi tersebut tidak selalu berjalan lancar karena artikel yang sudah ditulis dengan serius tetap dapat mengalami penolakan. Kondisi ini dapat terjadi pada tahap awal melalui desk rejection maupun setelah artikel melewati proses penilaian reviewer.
Pertanyaan mengenai mengapa artikel ditolak jurnal Scopus sering muncul setelah penulis menerima keputusan dari editor. Penolakan tidak selalu berarti penelitian yang dilakukan tidak berkualitas, karena keputusan editor dan reviewer dapat dipengaruhi oleh kesesuaian scope, kebaruan penelitian, kualitas metodologi, struktur artikel, hingga cara penulis menjelaskan kontribusinya. Memahami penyebabnya dapat membantu penulis melakukan evaluasi secara objektif.
Mengetahui faktor penyebab penolakan juga penting agar penulis tidak langsung mengirim artikel yang sama ke jurnal lain tanpa melakukan perbaikan. Setiap tahap editorial memiliki pertimbangan yang berbeda sehingga strategi revisi perlu disesuaikan dengan jenis penolakan yang diterima. Dengan memahami perbedaan desk rejection dan rejection reviewer, penulis dapat menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat dan meningkatkan peluang publikasi pada submission berikutnya.
Baca juga : Konsultasi Skripsi Online Terpercaya
Memahami Desk Rejection pada Jurnal Scopus
Desk rejection adalah penolakan artikel yang dilakukan oleh editor sebelum naskah dikirim kepada reviewer untuk proses peer review. Pada tahap ini, editor melakukan pemeriksaan awal terhadap berbagai aspek artikel untuk menentukan apakah naskah layak diteruskan ke tahap penilaian ilmiah. Keputusan tersebut dapat dibuat berdasarkan scope jurnal, kualitas awal manuskrip, kepatuhan terhadap panduan penulis, serta pertimbangan editorial lainnya.
Salah satu alasan mengapa artikel ditolak jurnal Scopus pada tahap desk rejection adalah ketidaksesuaian dengan aims and scope jurnal. Artikel dapat memiliki metodologi yang baik, tetapi apabila topiknya tidak berhubungan dengan fokus jurnal, editor memiliki alasan untuk tidak melanjutkan proses review. Karena itu, penulis sebaiknya tidak memilih jurnal hanya berdasarkan quartile atau reputasi, tetapi juga membaca deskripsi scope dan membandingkannya dengan penelitian yang dilakukan.
Desk rejection juga dapat terjadi ketika naskah belum memenuhi standar dasar jurnal. Masalah seperti struktur artikel yang tidak mengikuti author guidelines, abstrak yang kurang informatif, bahasa akademik yang sulit dipahami, referensi yang tidak relevan, atau format manuskrip yang tidak sesuai dapat memengaruhi keputusan awal. Oleh karena itu, pemeriksaan teknis sebelum submission menjadi langkah penting agar artikel tidak berhenti hanya karena masalah yang sebenarnya dapat diperbaiki.

Penyebab Artikel Ditolak Setelah Review
Jika artikel berhasil melewati pemeriksaan awal, naskah dapat dikirim kepada reviewer untuk mendapatkan penilaian terhadap kualitas ilmiahnya. Pada tahap ini, alasan penolakan biasanya berkaitan dengan substansi penelitian, metodologi, analisis data, kontribusi ilmiah, atau kualitas pembahasan. Reviewer menilai apakah penelitian memiliki dasar yang cukup kuat untuk mendukung kesimpulan yang disampaikan.
Kebaruan penelitian menjadi salah satu aspek yang sering diperhatikan dalam proses review. Artikel dapat ditolak apabila penelitian dianggap hanya mengulang studi sebelumnya tanpa memberikan kontribusi yang cukup jelas. Bahkan ketika topik penelitian menarik, penulis tetap perlu menunjukkan apa yang membedakan penelitian tersebut dari penelitian terdahulu dan mengapa hasilnya memiliki nilai bagi bidang yang dibahas.
Masalah metodologi juga dapat menjadi faktor penting dalam keputusan rejection. Reviewer dapat mempertanyakan pemilihan sampel, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, metode analisis, atau hubungan antara pertanyaan penelitian dan metode yang digunakan. Jika kelemahan metodologis dianggap terlalu mendasar untuk diperbaiki melalui revisi, artikel dapat ditolak meskipun topiknya sesuai dengan jurnal.
Penyebab Umum Artikel Mengalami Penolakan
Penolakan artikel biasanya merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor, bukan hanya satu kesalahan. Penulis dapat menggunakan beberapa aspek berikut sebagai checklist sebelum mengirim artikel ke jurnal Scopus.
- Scope tidak sesuai dengan fokus jurnal. Artikel harus memiliki hubungan yang jelas dengan bidang dan topik yang menjadi perhatian jurnal.
- Novelty atau kebaruan kurang terlihat. Penulis perlu menjelaskan dengan jelas celah penelitian yang ingin diisi dan kontribusi yang diberikan.
- Research gap tidak kuat. Latar belakang sebaiknya tidak hanya berisi rangkuman penelitian terdahulu, tetapi menunjukkan masalah atau pertanyaan yang masih belum terjawab.
- Metodologi kurang meyakinkan. Pemilihan metode, sampel, instrumen, serta teknik analisis harus memiliki alasan yang jelas dan sesuai dengan tujuan penelitian.
- Data tidak cukup mendukung kesimpulan. Klaim dalam artikel harus memiliki dasar dari hasil penelitian dan analisis yang dilakukan.
- Pembahasan terlalu deskriptif. Hasil penelitian sebaiknya tidak hanya dilaporkan, tetapi diinterpretasikan dan dibandingkan dengan penelitian terdahulu.
- Referensi kurang relevan atau tidak mutakhir. Literatur yang digunakan perlu mendukung argumen penelitian dan mencerminkan perkembangan bidang yang diteliti.
- Struktur manuskrip tidak mengikuti ketentuan jurnal. Format artikel, jumlah kata, gaya sitasi, tabel, gambar, dan bagian manuskrip perlu disesuaikan dengan author guidelines.
- Bahasa akademik kurang jelas. Kesalahan tata bahasa dan kalimat yang sulit dipahami dapat mengurangi kejelasan argumen penelitian.
- Kesimpulan terlalu jauh dari hasil penelitian. Kesimpulan harus berasal dari temuan yang benar-benar didukung oleh data.
Perbedaan Desk Rejection dan Rejection Reviewer
Memahami perbedaan kedua jenis penolakan membantu penulis menentukan tindakan setelah menerima keputusan editorial. Desk rejection lebih banyak berkaitan dengan kelayakan awal manuskrip, sedangkan rejection setelah review biasanya melibatkan evaluasi lebih mendalam terhadap kualitas ilmiah penelitian.
| Aspek | Desk Rejection | Rejection Reviewer |
| Waktu terjadi | Sebelum peer review | Setelah naskah dinilai reviewer |
| Penilai utama | Editor atau editorial team | Reviewer dan editor |
| Fokus evaluasi | Scope, format, kualitas awal, kebijakan jurnal | Metodologi, novelty, analisis, kontribusi ilmiah |
| Penyebab umum | Tidak sesuai scope atau panduan | Kelemahan penelitian atau analisis |
| Lama proses | Biasanya relatif lebih singkat | Dapat membutuhkan waktu lebih lama |
| Perbaikan | Sering dapat dilakukan sebelum submit ulang | Memerlukan evaluasi substansi yang lebih mendalam |
| Strategi berikutnya | Memperbaiki format atau memilih jurnal yang lebih sesuai | Memperbaiki substansi penelitian atau mempertimbangkan jurnal lain |
| Perlu submit ke jurnal lain? | Dapat dilakukan setelah perbaikan | Sebaiknya setelah menanggapi kelemahan utama |
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua rejection harus ditanggapi dengan cara yang sama. Jika masalah utama adalah scope, memaksakan artikel yang sama ke jurnal dengan bidang serupa tanpa memeriksa kesesuaian dapat mengulang masalah yang sama. Sebaliknya, jika reviewer menemukan kelemahan metodologi, penulis perlu melakukan evaluasi terhadap penelitian sebelum menentukan target publikasi berikutnya.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Artikel Ditolak?
Menerima rejection sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akhir dari proses publikasi. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membaca surat keputusan editor dan komentar reviewer secara menyeluruh. Penulis perlu memisahkan kritik yang berkaitan dengan substansi penelitian dari komentar mengenai format, bahasa, struktur, atau ketidaksesuaian dengan kebijakan jurnal.
Jika editor memberikan komentar yang cukup spesifik, komentar tersebut dapat digunakan sebagai dasar revisi. Penulis dapat membuat daftar masalah berdasarkan tingkat kepentingannya, kemudian memperbaiki bagian yang paling fundamental terlebih dahulu. Misalnya, apabila reviewer mempertanyakan research gap dan metodologi, kedua aspek tersebut sebaiknya diperbaiki sebelum melakukan penyempurnaan kecil pada tata bahasa.
Setelah revisi selesai, penulis perlu menentukan apakah artikel akan dikirim kembali ke jurnal yang sama atau diarahkan ke jurnal lain. Jika keputusan rejection bersifat final dan jurnal tidak memberikan kesempatan resubmission, penulis dapat mempertimbangkan jurnal alternatif yang lebih sesuai. Namun, sebelum melakukan submission baru, artikel tetap perlu disesuaikan dengan scope dan author guidelines jurnal tujuan agar kesalahan sebelumnya tidak kembali terjadi.
Baca juga : Jurnal Scopus Tanpa APC: Cara Mencari Jurnal Gratis dan Memeriksa Kebijakan Publikasinya
Kesimpulan
Artikel dapat ditolak oleh jurnal Scopus karena berbagai alasan, mulai dari desk rejection akibat ketidaksesuaian scope dan masalah teknis hingga rejection reviewer karena kelemahan novelty, research gap, metodologi, analisis, atau kontribusi ilmiah. Penolakan tidak selalu menunjukkan bahwa seluruh penelitian buruk, tetapi menjadi sinyal bahwa terdapat aspek tertentu yang belum memenuhi pertimbangan editorial atau standar jurnal. Karena itu, penulis perlu membaca alasan penolakan secara objektif sebelum menentukan langkah berikutnya.
Strategi terbaik setelah rejection adalah melakukan evaluasi, memperbaiki kelemahan utama, dan memilih target jurnal secara lebih tepat. Jangan terburu-buru mengirim manuskrip yang sama ke jurnal lain tanpa revisi, terutama jika komentar reviewer menunjukkan masalah substantif. Dengan proses evaluasi yang sistematis, pengalaman rejection dapat menjadi bagian dari proses meningkatkan kualitas artikel dan memperbesar peluang diterima pada submission berikutnya.
Untuk mendapatkan informasi terbaru dan terpercaya seputar skripsi, terus ikuti berbagai artikel edukatif dari Skripsi Malang serta manfaatkan layanan pendampingan skripsi dan tugas akhir dengan menghubungi Admin Skripsi Malang, agar Anda dapat Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.

