Nomophobia merupakan istilah yang berasal dari kata no mobile phone phobia, yaitu ketakutan berlebihan saat seseorang tidak dapat mengakses atau menggunakan ponsel mereka. Dalam konteks kehidupan mahasiswa, fenomena ini menjadi semakin umum, terutama karena ponsel kini berperan besar dalam kegiatan akademik seperti mencari referensi, berkomunikasi dengan dosen, hingga menulis skripsi. Namun, penggunaan yang berlebihan justru dapat menimbulkan kecanduan dan mengganggu fokus belajar.
Dalam dunia akademik, nomophobia berpotensi menurunkan produktivitas mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka media sosial, bermain gim, atau menonton video pendek di sela-sela waktu penelitian. Akibatnya, konsentrasi dalam menyusun skripsi menjadi terganggu dan jadwal pengerjaan yang seharusnya efisien malah tertunda.
Selain itu, nomophobia juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada ponsel cenderung mudah cemas ketika kehilangan koneksi internet atau baterai ponselnya habis. Kecemasan ini berdampak pada motivasi belajar yang menurun, rasa malas, serta kesulitan mengatur waktu secara efektif.
Ketergantungan ini juga dapat menghambat interaksi sosial secara langsung. Banyak mahasiswa lebih memilih berkomunikasi melalui pesan teks ketimbang berdiskusi tatap muka. Padahal, dalam proses penyusunan skripsi, komunikasi langsung dengan dosen pembimbing sangat penting untuk memperjelas arah penelitian.
Dengan demikian, nomophobia bukan hanya masalah kecil dalam gaya hidup digital, melainkan fenomena yang memiliki dampak signifikan terhadap efektivitas belajar dan penyusunan skripsi mahasiswa.
Baca Juga: Menyusun Skripsi Optimalisasi yang Efisien dan Berkualitas
Dampak Nomophobia terhadap Proses Penyusunan Skripsi
Nomophobia membawa dampak nyata dalam proses penyusunan skripsi, baik dari segi psikologis maupun akademik. Salah satu dampak paling jelas adalah menurunnya kemampuan fokus. Ketika mahasiswa terlalu sering memeriksa notifikasi, konsentrasi mereka terpecah dan ide-ide penelitian sulit berkembang secara maksimal.
Selain itu, nomophobia menyebabkan mahasiswa sulit mengatur waktu. Alih-alih menggunakan waktu luang untuk menulis atau membaca referensi, banyak yang terjebak dalam aktivitas digital yang tidak produktif. Akibatnya, tenggat waktu penyusunan skripsi sering terlewati.
Dampak lainnya adalah munculnya stres akademik. Rasa takut ketinggalan informasi di media sosial atau grup pertemanan membuat mahasiswa lebih sering membuka ponsel. Ketika skripsi tak kunjung selesai, mereka merasa bersalah dan semakin tertekan. Lingkaran stres ini memperburuk kualitas hasil penelitian.
Nomophobia juga berdampak pada hubungan antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Beberapa mahasiswa menjadi sulit dihubungi secara langsung, hanya mengandalkan komunikasi lewat pesan singkat yang sering kali kurang efektif. Kurangnya kedisiplinan dalam komunikasi ini bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam bimbingan skripsi.
Secara keseluruhan, nomophobia dapat menurunkan kualitas akademik mahasiswa. Kecanduan ponsel membuat mereka sulit fokus, kehilangan semangat, dan pada akhirnya menghambat kelulusan.
Faktor-Faktor Penyebab Nomophobia pada Mahasiswa
Nomophobia tidak muncul begitu saja. Terdapat berbagai faktor yang mendorong mahasiswa mengalami ketergantungan pada ponsel, antara lain:
-
Akses internet yang mudah
Kemudahan akses membuat mahasiswa bisa menggunakan ponsel kapan pun tanpa batas. -
Tekanan sosial dan akademik
Mahasiswa merasa harus selalu online agar tidak tertinggal informasi dari teman atau dosen. -
Kebiasaan multitasking digital
Seringnya berpindah dari aplikasi akademik ke hiburan membuat sulit untuk fokus. -
Kurangnya kontrol diri
Mahasiswa sering gagal mengatur waktu antara belajar dan penggunaan ponsel. -
Ketergantungan emosional terhadap media sosial
Rasa ingin selalu terhubung dengan dunia luar menciptakan kecemasan ketika tidak memegang ponsel.
Faktor-faktor ini saling berhubungan dan membentuk pola perilaku yang sulit diubah tanpa kesadaran dan disiplin tinggi.
Cara Mengatasi Nomophobia dalam Proses Skripsi
Mengatasi nomophobia membutuhkan strategi dan komitmen. Berikut beberapa cara efektif untuk menguranginya:
-
Membatasi waktu penggunaan ponsel
Gunakan fitur screen time untuk memantau durasi penggunaan aplikasi setiap hari. -
Menentukan jam khusus tanpa ponsel
Sediakan waktu tertentu, misalnya dua jam sehari, untuk fokus menulis tanpa gangguan. -
Gunakan ponsel hanya untuk kebutuhan akademik
Akses jurnal, e-book, atau aplikasi catatan yang membantu proses penulisan skripsi. -
Ganti kebiasaan scrolling dengan kegiatan produktif
Misalnya, membaca buku, berolahraga, atau berdiskusi dengan teman tentang topik skripsi. -
Matikan notifikasi yang tidak penting
Dengan begitu, perhatian tidak terus-menerus teralihkan oleh pesan atau media sosial.
Langkah-langkah tersebut membantu mahasiswa mengembalikan fokus pada penyusunan skripsi dan meningkatkan kualitas hasil penelitian.
Peran Kampus dan Dosen dalam Mengurangi Nomophobia
Kampus dan dosen memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa mengatasi nomophobia. Pertama, institusi pendidikan dapat mengadakan seminar atau pelatihan mengenai manajemen waktu dan penggunaan teknologi secara sehat. Kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran mahasiswa akan bahaya ketergantungan ponsel.
Dosen pembimbing juga dapat memberikan arahan agar mahasiswa memanfaatkan teknologi secara bijak. Misalnya, dengan mendorong mereka menggunakan aplikasi penelitian, manajemen referensi, atau platform diskusi akademik daripada media hiburan.
Selain itu, kampus dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dengan menyediakan ruang tenang untuk menulis skripsi tanpa gangguan digital. Dengan dukungan seperti ini, mahasiswa dapat mengatur waktu dan fokusnya dengan lebih baik.
Baca Juga: Panduan Lengkap Menulis Naskah Publikasi Skripsi
Kesimpulan
Nomophobia telah menjadi tantangan baru di era digital, terutama bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Ketergantungan berlebihan pada ponsel menghambat fokus, produktivitas, dan kesehatan mental.
Namun, dengan kesadaran diri, disiplin, serta dukungan dari kampus dan dosen, mahasiswa dapat mengendalikan penggunaan ponsel secara bijak. Menyusun skripsi membutuhkan konsentrasi dan dedikasi, dan kebiasaan digital yang sehat akan membantu mencapai hasil akademik yang maksimal.
Akhirnya, memahami dan mengatasi nomophobia bukan hanya tentang mengurangi penggunaan ponsel, tetapi juga tentang membangun kebiasaan berpikir fokus dan produktif dalam perjalanan akademik.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari Skripsi Malang. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin Skripsi Malang sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.


